PDA

View Full Version : Nafsu di Penghujung Gunung



kudaponi
01-30-2014, 09:11 AM
Nama ku adalah Adi, umurku 22 tahun sekarang. Aku ingin menceritakan pengalamanku yang tak terlupakan. Hal itu terjadi pada saat aku sedang pergi gunung Lawu. Saat itu aku bersama rombongan yang berjumlah 6 orang, yaitu : Andri, Tommy, Nick, Nina, Patricia, dan aku sendiri. Perlu diketahui Patricia adalah pacarku, dan kami sudah 2 tahun pacaran dan selama ini hubungan kami baik-baik saja. Dia termasuk tipe cewek yang dingin karena selama kami pacaran belum pernah melakukan hal-hal yang diluar batas. Bahkan gandengan tangan saja aku baru bisa lakukan setelah pacaran kurang lebih 6 bulan.

Saat itu kami naik dari rute cemoro sewu. Karena medannya sangat terjal setelah masuk pos lima, maka kami memutuskan untuk beristirahat. Kami mendirikan kemah di tempat yang agak jauh dari rute pendakian dan kami mencari tempat yang berada di dekat aliran air.
Setelah malam, kami berkumpul di depan api unggun dan kami mulai bernyanyi bersama. Tommy mengambil tas ranselnya dan mengeluarkan 3 botol minuman keras. Dia mengatakan kalau itu adalah minuman keras yang alkoholnya sedikit. Dan karena bujuk rayunya pun maka kami minum sedikit. Kami lalu bermain kartu dan hukuman bagi yang kalah adalah minum minuman keras itu satu gelas kecil. Nina dan Patricia pada dasarnya memang tidak bisa main kartu sehingga mereka sering kali kalah. Mereka berdua menghabiskan hampir satu botol penuh minuman itu.

Setelah kusadar, ternyata kami semua memang sedang mabuk, karena kurasakan pandanganku sudah agak tidak jelas lagi dan badanku terasa panas. Sementara Andri mulai mendekati Nina dan berkicau macam-macam selayaknya orang mabuk. Tiba-tiba dia menarik baju Nina dan dirobeknya kaus lengan panjang itu. Serentak kami yang lain tersentak kaget. Tapi aku lebih kaget lagi ketika Tommy dan Nick menyergap Patricia. Aku bingung dengan keadaan yang terjadi, dan saat aku akan menghalangi tindakan mereka, Andri meneriaki ku supaya membantunya memegangi Nina. Kulihat kaus dan celana Nina sudah lepas dan tinggal bh dan cd nya saja yang melekat ditubuhnya yang kuning langsat itu. Melihat pemandangan itu aku jadi sedikit terangsang juga mungkin ini dikarenakan minuman tadi karena selama ini aku anti minum minuman keras. Segera kupegangi tangan Nina yang memberontak pelan. Sementara Andri sedang melepaska bh Nina dan terlihatlah payudara yang montok berukuran 34 C itu. Sekalipun kulitnya tidak seputih pacarku tetapi melihat bukit kembar yang mengacung tegak didepanku aku jadi terangsang hebat. Dan segera kulihat Andri mengerayangi payudara Nina dan meremas-remasnya dengan liar serta tangan kirinya menggerayangi bagian bawah tubuh Nina

Sesaat aku tertegun dan tiba-tiba aku melihat Andri melepaskan cd milik Nina dengan cepatnya sampai pinggiran cd itu robek. Andri pun melucuti pakaian atasnya dan mulai memainkan seluruh bagian tubuh Nina dengan jari dan lidahnya. Pandangan mataku tertuju kepada Patricia yang letaknya sekitar 10 meteran dariku. Pacarku itu kulihat sedang dikeroyok oleh Tommy dan Nick. Tangannya dipegangi oleh Tommy dan kakinya dipegangi oleh Nick. Entah kerasukan apa aku ini atau karena pengaruh minuman, aku sama sekali tidak bereaksi melihat pacarku diperlakukan seperti itu oleh mereka.

Kulihat tangan Nick mulai bergerilya dan melucuti bagian atas pakaian Patricia dan juga celananya. Sesaat kemudian terlihatlah tubuh putih yang tinggal berkainkan bra dan cd itu. Payudara yang ukurannya kira-kira sama dengan milik Nina.

Tommy yang kulihat kesetanan menciumi mulut Patricia yang selama ini baru sekali kucium, itupun karena dia ulang tahun dan kuberanikan diri untuk menciumnya. Kulihat pacarku itu sedang berusaha membebaskan diri tetapi tidak sanggup karena tubuhnya lemas terbuai oleh alkohol. Sementara itu Nick kulihat sedang menciumi bukit kembar yang sudah dilepaskan dari bra nya itu. Dikulumnya dengan liar putting payudara pacarku itu dengan sesekali lidahnya memainkan di ujungnya. Lalu cd nya pun juga dimelorotkan dengan perlahan tapi pasti. Dan selama ini belum pernah aku melihat tubuh pacarku polos tanpa busana sehelai pun apalagi menyentuhnya padahal aku pacarnya. Tetapi sekarang aku melihat bahwa tubuh pacarku sedang dinikmati oleh dua pemuda yang seharusnya tidak mendapat hak istimewa tersebut.

Kulihat Nick dan Tommy melepaskan baju mereka hingga mereka berdua telanjang bulat. Tiba-tiba kudengar teriakan dari Nina. Kulihat Andri sedang berusaha memasukkan penisnya kedalam vagina Nina yang masih sempit itu. Pertama-tama memang susah dan setelah 3 menit lamanya Andri menyerah karena tidak sanggup. Penisnya mengecil lagi karena udara dingin. Melihat hal itu aku mengambil inisiatif untuk mengerjainya, karena terus terang aku sendiri sudah tidak tahan. Aku heran kenapa hari ini aku begitu liar tidak seperti biasanya.

Setelah kulepas celana ku, segera aku bimbing penisku yang sudah sedikit basah karena terangsang dan sudah tegak tersebut kearah rongga kewanitaan Nina. Pertama memang sangat seret, tapi aku mengambil sisa minuman tadi dan kuoleskan di bibir vagina milik Nina sehingga menjadi basah. Lalu ku bimbing lagi roketku untuk menerjang kewanitaannya. Saat kepala penisku sudah memasuki liang vaginanya dia menjerit kecil. Lalu mulai kumaju mundurkan perlahan sehingga sekarang separuh dari bagian penis ku sudah masuk kedalam vaginanya. Kurasakan ada cairan hangat keluar dari dalam vaginmanya mengenai penisku yang aku yakin itu adalah darah keperawanannya.

Lalu kumulai memajukan penisku lagi kedalam liang cintanya, diiringi rintihan dari Nina, “Di…jangan! Aku masih perawan….”

Tetapi Andri menyahut, “Jangan khawatir Nin, sebentar lagi juga kamu bakal merasakan enaknya.” Sambil tersenyum.

Sesegera mungkin ku benamkan penisku kedalam vagina milik Nina.

Saat itu juga Nina melolong keras “Aduhhh…sakit Di! Jangan ….aku tidak mau…..! Aku…….achhhh!” ucapannya terputus saat aku menyodok vaginanya dengan penisku yang membuatnya masuk secara sempurna.

Sekarang penisku seluruhnya terbenam di vaginanya.

Kembali aku melihat Nick dan Tommy. Kulihat sekarang mereka sudah telanjang bulat dan Nick mengambil posisi siap menyetubuhi pacarku. Penisnya berukuran sekitar 14 cm (2 cm lebih pendek dari punyaku) mengacung dan dilumerinya dengan ludahnya.

Sementara Patricia memberontak ringan, “Jangan Nick, aku jangan kamu perkosa….! Adi tolong aku!” teriaknya.

Herannya aku seperti tidak menggubrisnya karena yang kurasakan sekarang adalah birahiku yang telah memuncak dan selama ini tidak terlampiaskan. Malam itu aku benar-benar seperti orang kerasukan.

Nick berkata ringan, “Salahkan diri loe sendiri kenapa dulu mutusin gua, sekarang gua mau balas perlakuan loe. Lagian sekarang pacar loe sedang ******* sama temen loe. Udah deh……percuma loe minta tolong ke dia. Minumannya tadi sudah gue kasih obat perangsang dosis tinggi. Sekarang yang dibenaknya cuman ******* aja.”

“Adi…tol…” belum sempat pacarku bicara dia sudah disumbat mulutnya dengan mulut Nick yang menciuminya secara paksa dan liar.

Diarahkannya penisnya itu kearah bibir vagina dari Patricia. Kulihat penis miliknya itu menyeruak memasuki belahan bibir vagina milik pacarku itu. “Aduhhh…sakit Nickk! Jangan! Ampun…aku minta maaf jika aku salah, tapi jangan rengut keperawananku!”

Tetapi Nick yang sudah seperti kesetanan, dia menjadi semakin beringas. Dengan kasar dia melesakkan penisnya kedalam vagina pacarku yang sekarang sudah sedikit basah karena cairan darah perawannya. Jeritan dan rintihan pacarku tidak dia hiraukan, malah dia semakin bernafsu untuk mengerjainya. Dengan kasarnya dia menggoyangkan penisnya maju mundur dan mengenjot tubuh pacarku tersebut dengan sangat kasar.

“Pat….vagina loe masih kenceng nih. Kasihan juga pacar loe yang blom sempet nikmatin sempitnya liang vagina loe. Gue dah jarah duluan..hehehe”

Patricia hanya diam dan menangis, karena dia antara sadar dan tidak membuat dia tidak dapat menyahut apalagi melawan lagi. Melihat hal itu aku jadi mempunyai perasaan marah, tetapi setelah kulihat tubuh Nina yang sedang kutindih, segera perasaan marah itu berganti dengan gairah yang membara. Segera ku genjot tubuh Nina dan ku pompa vaginanya yang masih perawan beberapa menit lalu itu. Nina pun melenguh-lenguh antara rasa sakit, nyeri, malu dan rasa risih.

Dalam beberapa kali pompaan aku menyodokkan penisku dengan keras dan cepat di vaginanya membuat sensasi luar biasa dan aku yakin Nina juga demikian. Setelah beberapa menit aku segera merasakan kalau maniku segera keluar, dan kusodokkan dengan lebih cepat dan keras lagi kearah vagina Nina dan keluarlah cairan putih kental itu membanjiri rahim Nina.